Ombilin

Barangkali bagi kebanyakan orang kata atau nama 'Ombilin' ini agak asing. Kalaupun ada yang pernah mendengar biasanya dikelirukan dengan Ombilin lain, yaitu sebuah kawasan di Sawah Lunto, Sumatera Barat penghasil batu bara peninggalan Belanda yang dahulu dikelola oleh pemerintah dengan nama PNTBO, Perusahaan Negara Tambang Batubara Ombilin. Namun yang ingin saya ceritakan dalam tulisan ini adalah sebuah desa kecil di tepian Danau Singkarak Sumatera Barat.
Ombilin adalah sebuah desa, orang Minang menyebutnya 'jorong', di Kenagarian (Kelurahan) Simawang, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Saya pernah tinggal dan bersekolah disana pada kurun waktu 1964 - 1967, dari kelas 4 SD sampai kelas 1 SMP. Saya  menulis ini karena ingin menggali kembali kenangan kehidupan di desa ini sebelum terlupakan sama sekali. 
Jorong Ombilin terletak kurang lebih 95 km dari kota Padang ke arah timur. Saya tidak tahu mengapa waktu itu orang tua saya 'tega' meninggalkan saya di kampung ini bersama nenek pada usia 10 tahun. Meninggalkan peradaban modern untuk hidup seolah di jaman kuno dan membentuk saya menjadi orang 'udik'. Tapi saya juga tidak tahu apakah saya menyesal dengan hal ini, karena banyak sekali pengalaman hebat yang saya alami. Banyak kejadian yang semula hanya ditemukan pada cerita-cerita di buku, disini saya mengalami dan melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kehidupan di desa memang tampak tentram dari luar tapi sebenarnya tidak setentram yang dibayangkan, ini saya sadari kemudian seiring dengan perjalanan waktu dan bertambahnya usia.    
Nenek bernama Rakina, orang-orang biasa memanggil Nek kina. Rumah beliau kecil, kurang lebih 6 x 8 meter, posisinya persis di tepian danau. Rumah tersebut menghadap ke utara, di belakang berbatasan langsung dengan danau. Di depan berbatasan langsung dengan jalan raya, kalau tidak salah bernama Jalan Raya Solok. berdampingan dengan jalan raya tanahnya agak lebih tinggi terbentang jalan kereta api peninggalan Belanda. 
Menurut cerita, Belanda membangun jalan kereta api bukan semata-mata untuk mengangkut orang akan tetapi untuk mengangkut batubara. Jalan kereta terbentang antara Padang sampai Sawahlunto, melewati beberapa desa di tepian Danau Singkarak. Stasiun-stasiun (kecil) di tepian danau yang dilewati kereta  dari sebelah barat, desa Sumpur, Batu Tabal, Ombilin, Batu Limbak, Kacang, Singkarak, dan Sumani. Jadi pada masa itu bila orang naik kereta api dari Solok ke Padang Panjang, danau mulai terlihat saat kereta memasuki desa Sumani dan akan menghilang saat melewati desa Sumpur. Danau Singkarak cukup besar, jangan membandingkannya dengan Danau Sunter apalagi danau yang ada di komplek Universitas Indonesia. Selagi menjadi pelajar SD Negeri 2 Simawang di Ombilin, sekolah pernah mengadakan tour jalan kaki mengelilingi Danau Singkarak sebagai anggota pramuka. Sayang saya tidak ingat lagi jorong-jorong apa saja yang ada di sekeliling Danau. Yang saya ingat ke arah barat setelah Ombilin ada jorong Padang Luar, kemudian BatuTabal, seterusnya saya tidak ingat lagi tapi jorong yang tepat berseberangan dengan Ombilin adalah 'Malalo'.



(to be continued)

1 comment:

  1. Bila Anda tertarik dengan tulisan ini silahkan tinggalkan pesan disini

    ReplyDelete

SILAHKAN MENINGGALKAN PESAN DISINI